MAKNAN BEKU SAAT ERAT HUBUNGANNNYA DENGAN PROSES MENGGORENG
PERHATIKAN KONDISI MINYAK GORENG ANDA SAAT MENGGORENG,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Mayoritas masyarakat Indonesia tak
pernah lepas dalam menggunakan minyak goreng, seperti yang dilakukan dalam
mengolah berbagai macam bahan makanan. Namun banyak pendapat tentang minyak
goreng yang masih belum jelas kebenarannya. Beberapa pendapat mengatakan, bahwa
minyak goreng adalah susuatu yang harus dihindari, karena tidak baik bagi
kesehatan. Akan tetapi, sebagian masyarakat berpendapat lain, seperti bahwa
minyak goreng merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan
tidak perlu dihindari.
Sesuai SNI 7709:1012, minyak goreng
diIndonesia diharus mengandung vitamin A, yang berfungsi sebagai kekebalan
tubuh mencegah kematian pada bayi, mencegah kebutaan, dan sebagai antioksidan tubuh. Kandungan vitamin
A dalam minyak goreng dapat diserap tubuh, ketika pengunaan minyak goreng
dilakukan secara benar yaitu pada suhu 168-1960C. Namun kebiasaan mengorengan
yang kurang benar akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Penelitian
mengungkapkan bahwa, menggorengan bila suhu pemanasan lebih tinggi dari proses
suhu normal (168-1960C) akan terjadi percepatan proses degradasi dan
oksidasi minyak goreng, yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorakan,
diabetes melitus, stroke, membentuk sel agresif penyebab kanker (Sartika, 2009).
Mengingat
dampak yang begitu merugikan bagi kesehatan, maka diperlu suatu sistem
pengukuran suhu minyak goreng, untuk menghindari kerusakan minyak goreng karena
suhu tinggi. Sistem pengukuran yang biasa digunakan beberapa restoran ternama di
Indonesia yaitu deep fryer thermometer,
dengan jangkauan suhu pengukurannya dari 100C sampai 4000C,
dengan tampilan suhu analog.
Penggunaan
sensor suhu thermokopel lebih tetap digunakan karena selain jangkauan suhunya
yang tinggi, sensor ini juga lebih handal di bandingkan dengan sensor suhu yang
lain dan merupakan sensor aktif. Pada
penelitian ini akan dibuat sistem pengukuran minyak goreng, dengan jangkauan
pengukuran 00C sampai 2500C, menggunakan display LCD yang menampilkan nilai suhu
minyak goreng, berbasiskan mikrokontroler ATMega8,
dengan sensor suhu termokopel tipe K.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah
membuat seperangkat sistem pengukuran suhu minyak goreng berbasis sensor suhu
termokopel tipe K.
2. Bagaimanakah
karakteristik alat ukur suhu berbasis termokopel tipe K yang akan dibuat, agar
dapat digunakan sebagai alat ukur suhu minyak goreng ?
1.3 Batasan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka
penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut:
1. Sensor
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensor suhu termokopel tipe K
produksi Digi Ware, dengan jangkauan 00C sampai 2500C.
2. Sistem
yang akan dibuat berbasis mikrokontroler ATMega8 yang berfungsi mengatur seluruh
kegiatan sistem.
3. Hasil
pengukuran suhu minyak goreng akan ditampilkan melalui LCD (Liquid
Cristal Display) berupa nilai besaran dalam celcius.
4. Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan minyak goreng sawit merk Bimoli
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang akan
dilakukan, diantaranya:
1. Membuat
suatu perangkat sistem pengukuran suhu minyak goreng berbasis sensor suhu
termokopel tipe K
2. Mengkarakterisasi
sistem pengukuran suhu minyak goreng, dengan menggunakan sensor suhu termokopel
tipe K, agar dapat digunakan sebagai alat pengukur suhu minyak goreng.
1.5 Manfaat
Penelitian
Adapun
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian
ini menawarkan perangkat sistem aplikatif pengukuran suhu minyak goreng yang
dirancang secara nyaman (ergonomic).
2. Mengurangi
kesalahan pemanasan minyak goreng, saat proses penggorengan.
3. Memberikan
informasi kepada masyarakat, dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh rusaknya
minyak goreng, akibat suhu tinggi.
1.6 Keaslian Penelitian
Dengan ini penulis menyatakan bahwa
skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh
gelar kesarjanaan di
suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya
juga tidak terdapat
karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Tinjauan Pustaka
Zulkarnain
Edwar (2011): Pengaruh pemanasan terhadap
kajenuhan asam lemak minyak goreng sawit dan minyak goreng jagung, Penelitian
ini memperlihatkan pengaruh suhu dan lama pemanasan terhadap asam lemak tidak
jenuh pada minyak goreng sawit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah minyak
goreng sawit mengalami percepatan proses degradasi dan oksidasi minyak goreng, setelah
20 menit pada suhu 2000C dan pada minyak jagung mengalaminya setelah
10 menit pada suhu 2000C.
Rita
Manurung (1999): Pembuatan Alat Ukur
Digital Dengan Tranduser Termokopel Tembaga Dan Besi, Kesimpulan dari
penelitian ini adalah, tembaga dan besi dapat digunakan untuk mengukur suhu,
hubungan antara suhu dan tegangan pada termokopel tembaga dan besi adalah
linear pada suhu 00C sampai 2250C, hasil uji dengan
membandingkan skala suhu termokopel digital dengan termokopel tembaga dan besi
pada benda ukur yang sama adalah senilai ralat sekitar 1%, waktu tanggap dengan
perbandingan Tipe K dan Tipe J diperoleh lebih cepat 10 detk.
Penelitian
yang akan dilakukan oleh penulis menggabungkan dari penelitian sebelumnya.
Penulis akan membuat sistem pengukuran minyak goreng dari proses penggorengan.
Kelebihan dari sistem ini yaitu memberikan hasil ukur suhu minyak goreng dari
proses penggorengan dalam satuan celcius, yang ditampilkan melalui LCD 2x16
karakter. Selain itu, sistem ini dikarakterisasi secara statis meliputi:
sensitifitas, jangkauan pengukuran, dan repeatabilitas sehingga hasil dari
rancangan alat ini bisa diuji kelayakannya. Sistem pengukuran ini bersifat portable dan ergonomic sehingga bisa dibawa kemana saja karena dilengkapi
baterai.
2.2 Landasan
Teori
2.2.1 Minyak Goreng
Minyak
dan lemak dalam bahan pangan secara umum dikelompokkan dalam dua golongan,
yaitu (1) lemak yang siap dikomsumsi langsung, seperti mentega, margarin, dan
(2) lemak yang dimasak bersama bahan pangan misalnya minyak goreng (kateren,
1986).
Reaksi
penting pada minyak dan lemak adalah reaksi hidrolisis, oksidasi, polimerisasi,
dan perubahan warna (lawson,1995). Perubahan
sifat kimia yang terjadi menyebabkan kenaikan kandungan asam lemak bebas hasil
reaksi hidrolisis, penurunan asam lemak tak jenuh, dan kenaikan bilangan
peroksida yang berhubungan dengan kerusakan minyak. (Choe dan Min, 2007), selama
proses pemanasan reaksi
hidrolisis, oksidasi, polimerisasi
akan menyebabkan minyak berasap, berbusa, dan meninggalkan warna coklat
serta flovor yang tidak disukai.
Perubahan sifat
fisik minyak yang
terjadi selama pemanasan menyebabkan kenaikan
indeks bias, viskositas,
warna, dan penurunan
titik asap. Viskositas yang
meningkat selama pemanasan
disebabkan peningkatan komponen hasil degradasi minyak. Komponen nonvolatil
yang memiliki berat molekul tinggi hasil
reaksi polimerisasi meningkatkan
viskositas minyak selama proses
penggorengan. Indeks bias
merupakan perbandingan perbandingan
kecepatan cahaya di udara dengan kecepatan cahaya di dalam medium tertentu.
Indeks bias pada
minyak meningkat dengan
semakin panjang rantai karbon, jumlah ikatan rangkap, dan
meningkatnya kekentalan hasil reaksi polimerisasi (Wan, 2000). Warna
minyak yang terbentuk selama proses
penggorengan merupakan hasil
degradasi warna alami
minyak atau komponen bahan pangan
yang digoreng (Akoh dan Min, 2002).
Reaksi
hidrolisis dapat terjadi pada proses penggorengan suhu tinggi. Bahan pangan
yang digoreng akan menghasilkan air dan uap air. Air dan uap air akan
menghidrolisis trigliserida pada suhu tinggi sehingga menghasilkan
monogliserida, digliserida, gliserol, dan asam lemak bebas. Reaksi
ini akan mengakibatkan ketengikan hidrolisa yang menghasilkan flavor dan
bau tengik pada minyak tersebut. Gliserida
akan terevaporasi sebagian pada suhu
150oC. Peningkatan asam lemak bebas dan produk asam lemak yang
memiliki bobot molekul rendah hasil oksidasi lemak dapat memicu reaksi hidrolisis dengan adanya uap selama
proses penggorengan (Warner, 2002).
Jumlah
asam lemak bebas semakin meningkat dengan lama waktu proses penggorengan. Asam
lemak yang terkandung dalam minyak goreng digunakan sebagai salah
satu indikasi kualitas
minyak goreng. Reaksi
hidrolisis lebih mudah terjadi
pada minyak yang mengandung komponen asam lemak rantai pendek
dan tak jenuh dari pada asam lemak rantai panjang dan jenuh karena asam lemak
rantai pendek dan
tak jenuh bersifat
lebih larut dalam
air. Penambahan minyak baru
pada proses penggorengan
akan memperlambat terjadinya
reaksi hidrolisis. Asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak goreng
maksimum sebesar 0.05 – 0.08% (Choe dan Min, 2007).
Gambar 2.2. Reaksi hidrolisis
yang terjadi pada minyak goreng
(Dewanti, 2009)
2.2.2 Sensor
Dalam kaitannya dengan sistem
elektronis, sensor dapat dipandang sebagai sebuah perangkat atau device yang berfungsi mengubah suatu
besaran fisik menjadi besaran listrik, sehingga keluarannya dapat diolah dengan
rangkaian listrik atau sistem digital. Dewasa ini, hampir seluruh peralatan
modern memiliki sensor di dalamnya. Terkait dengan perkembangan teknologi yang
begitu luar biasa, pada saat ini, banyak sensor telah dipabrikasi dengan ukuran
sangat kecil hingga orde nanometer sehingga menjadikan sensor sangat mudah
digunakan dan dihemat energinya (Setiawan, 2009).
Jacob
Fraden (2003) mendefinisikan sensor sebagai “peranti yang menerima sebuah
stimulus dan meresponnya dengan sebuah sinyal listrik”. Lebih jauh Fraden mendefinisikan
stimulus, atau rangsangan, sebagai kuantitas, sifat, atau kondisi tertentu yang
dapat dirasakan dan diubah menjadi sinyal listrik. Tujuan dari sebuah sensor
adalah merespon sejenis masukan dan mengubah masukan tersebut menjadi sinyal
listrik. Keluaran (output) dari
sensor dapat berupa arus atau beda potensial. Setiap sensor pada prinsipnya
adalah pengubah energi (energy converter).
Sedangkan
D Sharon, dkk (1982), mengatakan sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi
untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan
suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi
biologi, energi mekanik dan sebagainya. Alur kerja fungsi sensor / tranduser
dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.3
Blok fungsional sensor/transduser (Setiawan, 2009)
Berdasarkan variabel yang diindranya,
sensor dikatagorikan kedalam dua jenis : sensor fisika dan sensor kimia. Sensor
fisika merupakan jenis sensor yang mendeteksi suatu besaran berdasarkan
hukum-hukum fisika, yaitu seperti sensor cahaya, suara, gaya, kecepatan, percepatan,
maupun sensor suhu. Sedangkan jenis sensor kimia merupakan sensor yang
mendeteksi jumlah suatu zar kimia dengan jalan mengubah besaran kimia menjadi
besaran listrik dimana di dalamnya dilibatkan beberapa reaksi kimia (Setiawan,
2009).
2.2.3. Sensor Termokopel
Pada pada tahun 1822, Seebeck melakukan
percobaan dengan menghubungkan plat bismuth diantara kawat-kawat tembaga. Hubungan (sambungan) tersebut diberi suhu
yang berbeda. Ternyata pada rangkaian
tersebut akan muncul arus listrik. Munculnya arus listrik mengindikasikan adanya
beda potensial antara ujung-ujung kedua sambungan.
Dari percobaan Seebeck tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa adanya
perbedaan suhu antara kedua sambungan logam tersebut akan menyebabkan munculnya gaya gerak listrik
antara ujung-ujung sambungan. Gaya gerak listrik yang muncul ini disebut dengan
gaya gerak listrik termo dan sumbernya disebut dengan elemen termo ( termokopel
).
Termokopel adalah sensor temperatur yang
paling banyak digunakan dalam industri disebabkan kesederhanaan dan kehandalannya. Keluaran dari termokopel bisa
lansung diukur dengan voltmeter dengan nilai yang sangat kecil, Termokopel
terdiri dari dua konduktor atau “termoelemen” yang berbeda, dihubungkan menjadi
satu rangkaian seperti yang terlihat pada gambar 2.1
Gambar
2.1.RangkaianTtermokopel (Ade ,2011)
Prinsip kejra termokopel adalah mengukur
perbedaan temperatur antara 2 titik, seperti jika sebuah batang logam
dipanaskan pada salah satu ujungnya maka pada ujung tersebut elektron-elektron
dalam logam akan bergerak semakin aktif, elektron-elektron saling berdesakan
dan bergerak kearah ujung, batang yang dipanaskan akan terjadi muatan positif.
Kerapatan elektron untuk setiap logam
berbeda, tergantung dari jenis logamnya.
Tipe-Tipe
Termokopel
Tersedia beberapa jenis
termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya:
Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni
alloy))
Tipe E memiliki output yang
besar (68 µV/°C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.
Tipe J (Iron / Constantan)
Rentangnya terbatas (−40 hingga +750 °C) membuatnya kurang populer dibanding
tipe K
Tipe J
memiliki sensitivitas sekitar ~52 µV/°C
Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil
(Ni-Si alloy)) Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N
cocok untuk pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di
atas 1200 °C. Sensitifitasnya sekitar 39 µV/°C pada 900°C, sedikit di bawah
tipe K. Tipe N merupakan perbaikan tipe K
Termokopel tipe B, R, dan S adalah
termokopel logam mulia yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Mereka
adalah termokopel yang paling stabil, tetapi karena sensitifitasnya rendah
(sekitar 10 µV/°C) mereka biasanya hanya digunakan untuk mengukur temperatur
tinggi (>300 °C).
Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) Cocok
mengukur suhu di atas 1800 °C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0°C
hingga 42°C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50°C.
Type R (Platinum /Platinum with 7%
Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C)
dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.
Type S (Platinum /Platinum with 10%
Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C)
dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S digunakan untuk
standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 °C).
Type T (Copper / Constantan) Cocok untuk
pengukuran antara −200 to 350 °C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan
yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur
alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43
µV/°C (frida, 2009)
Untuk Termokopel tipe K pada umumnya
jangkauannya suhunya berkisaran antara -2000C sampai 12500C.
Pada sistem pengukuran suhu minyak goreng dalam penelitian ini sensor suhu yang
dibutuhkan adalah sensor yang dapat mengukur suhu 00C sampai 2500C
sesuai dengan jangkauan suhu minyak goreng, sedangkan dipasaran terdapat sensor suhu termokopel tipe K yang jangkauan
suhunya lebih sempit yaitu antara 00C sampai 4000C.
Termokopel tipe K ini terbuat dari dua konduktor yaitu Cromel pada konduktor
positif dan Alumel pada konduktor negatif.
Pada termokopel tipe K yang ditawarkan
oleh Digi-Ware ini mempunyai panjang kabel 1 meter dengan lebar kawat 6,35 mm,
mempunyai pelindung luar dari stainless
steel braiding. Pada sensor termokopel tipe k ini mempunyai dimensi unjung
sensor 12,7 mm, dengan berat sensor keseluruhannya adalah 20g. Gambar sensor
termokopel tipe K dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut ini.
Gambar 2.5 Termokopel tipe K (Data Sheet thermokopel
tipe K Digi-Ware)
2.2.4
Modul Termokopel Kit DS 760
Modul termokopel kit DS
2760 merupakan suatu modul untuk komuniksi sensor suhu termokopel dengan
mikrokontroler. Keluaran tegangan dari termokopel terlalu kecil sehingga dengan
Modul Termokopel Kit DS 2760 ini tegangan dari termokopel yang terlalu kecil
tersebut dapat terbaca oleh mikrokontreoler.
|
Data IO
|
|
Vdd
|
|
Vss
|
Gambar 2.5a Modul Termokopel Kit
DS 2760
Gambar
2.5b Skema modul Termokopel DS 2760
(Data Sheet DS 2760)
2. 2.5 Karakteristik
Sensor
Karakterisasi sensor dilakukan untuk
mengetahui kinerja sistem sensor yang telah dirancang (Fraden, 2003).
Karakteristik sensor dalam penelitian ditentukan oleh hubungan antara sinyal
keluaran dan masukan. Karakteristik sensor dibagi menjadi dua yaitu
karakteristik statik dan dinamik. Karakteristik statis adalah sifat sensor yang
perubahan responnya tidak berubah terhadap waktu. Karakteristik statis sensor meliputi
fungsi transfer, linearitas, jangkauan pengukuran, sensitivitas, akurasi, repeatabilitas
dan lain-lain. Sedangkan karekteristik dinamis adalah sifat sensor yang
perubahan responnya akan berubah terhadap waktu contohnya kalibrasi dan
lain-lain. Berikut adalah penjelasan dari beberapa contoh dari karakteristik
statis:
1. Iinieritas
Pengukuran
yang baik adalah jika masukan pengukuran (nilai sesungguhnya) memberikan
keluaran (nilai yang ditunjukkan alat ukur) yang sebanding lurus. Linieritas merupakan kemampuan sensor
untuk membentuk hubungan keluaran (output) dan masukan (input) yang diwujudkan dalam
persamaan garis lurus.
Grafik 2.1 (a). Grafik linieritas, (b) grafik nonlinieritas
(Morris, 2001)
Variabel bebas (independent variable) adalah
variabel yang nilai–nilainya tidak tergantung pada variabel lainnya, biasanya
disimbolkan dengan X. Variabel ini
digunakan untuk meramalkan atau menerangkan nilai dari variabel yang lain.
Sedangkan variabel terikat (dependent variable) adalah
variabel yang nilai-nilainya
bergantung pada variabel lainnya, biasanya disimbolkan dengan Y.
Variabel ini merupakan variabel yang diramalkan atau diterangkan nilainya (Fraden,
2003).
Koefisien korelasi linier menggambarkan ukuran kekuatan atau keeratan
hubungan (korelasi) antara dua variabel.
Koefisien korelasi dinotasikan dengan r,
sering juga disebut dengan
korelasi pearson atau pearson product moment. Sehingga
pengujian korelasi linier dilakukan sebelum menganalisa regresi, hal ini bertujuan
untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara varibel X dan Y yang akan
dianalisis. Untuk menentukan koefisien korelasi linier (r) berdasarkan
sekumpulan data (XiYi) berukuran n dapat
menggunakan persamaan berikut ini.
Keterangan,
r :
koefisien korelasi linier
n :
jumlah data
2. Sensitifitas
Sensitifitas menunjukan seberapa jauh
kepekaan sensor atau respon sensor suatu instrumen terhadap kuantitas yang
diukur Fraden (2003). Sensitifitas
sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan perubahan keluaran
dibandingkan unit perubahan masukan. Linearitas sensor juga mempengaruhi
sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapan linier, maka sensitivitasnya juga
akan sama untuk jangka pengukuan keseluruhan.
Untuk mengukur sensitivitas thermokopel
tipe K produksi Digi-Ware maka sebagai perubahan masukan (Xi)
adalah panas minyak goreng (0C) yang di dapat dari sensor deep fryer thermometer dan sebagai
perubahan keluaran (Yi) adalah tegangan yang terukur (Volt). Untuk
fungsi transfer yang linier, sensitivitas sensor dapat diperoleh dari slope grafik.
Fungsi transfer adalah karakteristik sensor yang menggambarkan perbandingan
antara keluaran yang dihasilkan (Yi) terhadap stimulus yang
diberikan (Xi). Fungsi transfer tersebut dapat digambarkan dalam
bentuk tabel, grafik atau persamaan matematis.
Analisa
regresi yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara dua variabel
dengan menggunakan analisa regresi linier sederhana (Simple Analisis Regression). Regresi linier sederhana merupakan
suatu prosedur untuk menunjukkan dua hubungan matematis dalam bentuk persamaan
antara dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y).
Bentuk umum persamaan linier
sederhana dapat terlihat pada persamaan 2.4.
Keterangan,
Yi :
variabel terikat (tanggapan/respon)
𝑎 : intersep
(garis potong kurva terhadap sumbu Y / zero
off set)
b : slope
(koefisien regresi/kemiringan kurva linier)
Xi :
variabel bebas (rangsangan/stimulus)
Untuk menentukan nilai slope (b)
dapat menggunakan persamaan 2.11.
Sedangkan untuk mencari nilai intersep
(a) dapat menggunakan persamaan 2.4,
atau dapat juga
dengan menggunakan persamaan 2.5.
3.
Jangkauan Pengukuran
(Range)
Menyatakan
nilai maksimum dan nilai minimum yang dapat diukur oleh suatu alat. Jangkauan
pengukuran dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu jangkauan pengukuran
masukan dan keluaran. Jangkuan pengukuran masukan merupakan daerah dimana
sensor masih dapat mengubah stimulus (masukan) yang diberikan, sedangkan
jangkauanpengukuruan keluaran merupakan perbedaan antara sinyal keluaran yang
diukur terhadap stimulus (masukan) maksimum dan minimum.
4.
Repeatabilitas
(Repeatability)
Presisi merupakan kemampuan sensor
dari sistem pengukuran untuk menghasilkan nilai yang sama pada kondisi yang
sama berulang-ulang. Presisi dibagi
menjadi dua macam, yaitu repeatabilitas dan reprodusibilitas. Repeatabilitas merupakan pengukuran berulang yang dilakukan dengan metode sama, oleh pengamat yang
sama, dan menghasilkan nilai yang sama.
Sedangkan reprodusibilitas merupakan pengukuran berulang dilakukan
dengan metode berbeda, oleh pengamat berbeda, tapi menghasilkan nilai yang
sama..
Besarnya nilai repeatability bisa diperoleh dengan menggunakan persamaan 2.17.
Sedangkan besarnya nilai repeatability error dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan 2.18.
Keterangan,
δ : Repeatability
Error
Δ
: Nilai Maximum – Nilai Mininimum
FS
: Full Scale (skala terjauh)
Grafik
untuk menentukan error repeatability sensor disajikan pada Grafik 2.2
Grafik.2.2 Grafik penentuan error repeatability (Fraden:
2003)
Besarnya
repeatability error dapat dituliskan
dalam persamaan 2.6.
ATMega8
merupakan seri mikrokontroler 8-bit buatan Atmel, bebasis arsitektur RISC (Reduce Instrumen Set Computer). Hampir
semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR mempunyai 32 register
general-purpose, time/counter, fleksibel dengan metode compare, interrupt internal dan eksternal, serial UART (Universal
Asynchronous Receiver Transmitter ) ,
PWT (Programmable Watchdog
Timer) dan mode power saving, ADC(Analog to
Digital Converter) dan PWM (Pulse-width
modulation) internal. Keluarga AVR
juga mempunyai In System
Programmable Flash on-chip yang
mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI (Serial Programmable Interface). Mikrokontroler
Atmega8 memiliki 28 Pin dengan internal
ADC (Analog
to Digital Converter). Konfigurasi
PIN ATmega8 dapat diperlihatkan pada gambar 2.9 berikut ini:
Gambar 2.12.Konfigurasi
pin Mikrokontroler ATMega8 (Data Sheet ATMega8)
(Sumber: Atmel-2486-8-bit-AVR-microcontroller-ATmega8_L_datasheet)
Mikrokontroler ATmega8
sebagaimana diperlihatkan pada gambar 2.7 memiliki feature sebagai
berikut
1. Kecepatan
beroperasi mulai dari 0 Hz -16 MHz
2. Memori: 8
Kb flash memory,
512 bytes EEPROM (Electrically Erasable Programmable
Read-Only Memory) , 1 Kb internal SRAM (Static Random-Access Memory)
3. Time/Counter
Ø Dua
buah 8 bit timer/counter,
Ø Satu
buah 16 bit timer/counter,
4. ADC
(Analog to Digital Converter) internal dengan spesifikasi:
Ø Delapan
kanal yang dapat digunakan secara bergantian,
Ø Tersedia
2,56 V tegangan referensi internal.
5. Tegangan
operasi mulai 4.5 volt sampai 5.5 volt
Deskripsi dan fungsi dasar dari pin-pin
mikrokontroler ATmega8 adalah
sebagai
berikut:
1)
VCC (Common-Collector Voltage)
Berfungsi sebagai
penyuplai tegangan digital.
Besarnya tegangan berkisar antara
4,5V – 5,5V
2)
GND
Ground, sebagai
referensi nol suplai tegangan digital.
3)
PORT B (PB7 sampai
dengan PB0)
PORTB adalah port I/O
dua-arah (bidirectional) 8-bit dengan
resistor pull-up internal yang dapat
dipilih. Buffer keluaran port ini
memiliki karakteristik yang simetrik ketika digunakan sebagai source ataupun sink. Ketika digunakan
sebagai input, pin
yang dipull-low secara eksternal akan memancarkan arus jika
resistor pull-up-nya diaktifkan.
Pin-pin PORTB akan
berada pada kondisi
tri-state ketika
RESET aktif, meskipun clock tidak
running.
4)
PORT C (PC5 sampai
dengan PC0)
PORTC adalah port I/O dua-arah (bidirectional) 7-bit dengan resistor pull-up internal yang dapat dipilih. Buffer keluaran port ini memiliki karakteristik yang simetrik
ketika digunakan sebagai source
ataupun sink. Ketika digunakan
sebagai input, pin
yang dipull-low secara eksternal akan memancarkan arus jika
resistor pull-up-nya diaktifkan.
Pin-pin PORTC akan
berada pada kondisi
tri-state ketika
RESET aktif, meskipun clock tidak running
5)
PC6 / RESET
Jika Fuse
RSTDISBL (Reset Disable) diprogram,
maka PC6 berfungsi sebagai
pin I/O akan
tetapi dengan karakteristik
yang berbeda dengan PC5
sampai dengan PC0.
Jika fuse RSTDISBL (Reset Disable)
tidak diprogram, maka
PC6 berfungsi sebagai masukan reset.
Sinyal low pada pin ini dengan lebar
minimum 1,5 mikrodetik akan
membawa mikrokontroler ke kondisi
reset, meskipun clock tidak running.
6)
PORT D (PD7 sampai
dengan PD0)
PORTD adalah port I/O
dua-arah (bidirectional) 8-bit dengan resistor pull-up internal yang dapat dipilih. Buffer keluaran port ini memiliki karakteristik yang simetrik
ketika digunakan sebagai source
ataupun sink. Ketika digunakan
sebagai input, pin
yang dipull-low secara eksternal akan memancarkan arus jika
resistor pull-up-nya diaktifkan. Pin-pin
PORTD akan berada
pada kondisi tri-state ketika
RESET aktif, meskipun clock
tidak running.
7)
RESET
Berfungsi sebagai pin
masukan reset. Sinyal low pada pin
ini dengan lebar minimum 1,5 mikrodetik akan
membawa mikrokontroler ke kondisi reset, meskipun clock tidak running.
Sinyal dengan lebar kurang dari 1,5 mikrodetik tidak
menjamin terjadinya kondisi reset
8)
AVCC (Analog Common-Collector Voltage)
AVCC adalah
pin suplai tegangan untuk ADC, PC3, PC0, dan ADC7 sampai dengan
ADC6. Pin ini
harus dihubungkan dengan
VCC, meskipun ADC tidak
digunakan. Jika ADC
digunakan, VCC harus dihubungkan ke AVCC melalui
low-pass filter
untuk mengurangi noise.
9)
AREF (Analog Reference)
Berfungsi sebagai pin
analog reference untuk ADC.
10) ADC7
sampai dengan ADC6
Berfungsi sebagai
analog input ADC.
2.2.6.1 CPU (Central Processing Unit)
Bagian ini
berfungsi mengendalikan seluruh
operasi pada mikrokontroler. Unit
ini terbagi atas
dua bagian, yaitu
unit pengendali atau CU (Control
Unit) dan unit
aritmatika dan logika atau
ALU (Aritmetic Logic Unit)
Fungsi utama unit pengendali adalah
mengambil instruksi dari
memori (fetch) kemudian
menterjemahkan susunan instruksi
tersebut menjadi kumpulan proses
kerja sederhana (decode), dan
melaksanakan urutan
instruksi sesuai dengan
langkah-langkah yang telah ditentukan program
(execute). Unit
aritmatika dan logika merupakan bagian
yang berurusan dengan
operasi aritmatika seperti
penjumlahan, pengurangan, serta manipulasi data secara logika seperti operasi
AND, OR, dan perbandingan
2.2.6.2 Bagian Masukan/Keluaran (I/O)
Bagian ini
berfungsi sebagai alat komunikasi serpih tunggal dengan peranti di luar sistem.
Ada dua macam peranti I/O yang digunakan,
yaitu peranti untuk
hubungan serial UART (Universal Asynchronous
Receiver Transmitter) dan
peranti untuk hubungan paralel yang disebut dengan PIO (Paralel Input Output)
2.2.6.3 Special Function Register (SFR)
Mikrokontroler mempunyai
sebuah peta memori
yang disebut sebagai Special
Function Register (SFR) . Port 0 berada di
alamat 80h, port 1 90h, port
2 A0h dan P3
di alamat B0h. Sedangkan SBUF (Serial Buffer) untuk komunikasi serial berada pada alamat 99h.
2.2.7 Liquid Crystal Display (LCD)
Liquid
Crystal Display
(LCD) merupakan modul penampil yang banyak digunakan untuk menampilkan
tulisan baik angka maupun huruf. LCD yang digunakan tampilan 2 baris x 16 kolom
dengan konsumsi daya yang rendah. LCD memiliki memori internal yang berisi definisi karakter sesuai dengan
standar ASCII (CGROM–Character Generator
ROM) dan memori sementara (RAM) yang bisa digunakan bila memerlukan karakter
khusus (berkapasitas 8 karakter). RAM ini juga berfungsi untuk menyimpan
karakter yang ingin ditampilkan di LCD.
LCD karakter yang digunakan sebagai tampilan data, dikendalikan oleh
mikrokontroler ATmega8. Pin DB0–DB7 dihubungkan dengan
port mikrokontroler yang telah diset sebagai jalur data. Cara menampilkan data
pada LCD yaitu menentukan koordinat (X, Y) tampilan melalui pemograman
mikrokontroler. Mikrokontroler hanya memberikan perintah yang kemudian
diterjemahkan oleh driver yang ada
dalam LCD.
Gambar 2.13 Rangkaian LCD
(www.delta-electronic.com)
Deskripsi
singkat pin yang ada pada Gambar 2.12 rangkaian LCD di atas yaitu:
Ø Pin
1 dihubungkan dengan ground
Ø Pin
2 dihubungkan dengan sumber teganan
Ø Pin
3 dihubungkan ke pin tengah pada sebuah Variabel Resistor sebesar 5KΩ yang
berfungsi sebagai pengatur kontras LCD.
Ø Pin
4 digunakan untuk memberitahukan kepada LCD bahwa data yang akan dikirim berupa
data atau berupa kode pengaturan.
Ø Pin
5 berfungsi untuk menentukan arah data.
Ø Pin
6 adalah pin untuk mengaktifkan (enable).
Ø Pin
7 hingga 14 adalah jalur data.
Ø Pin
15 dan 16 adalah pin untuk menyalakan lampu LCD
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat penelitian
Waktu
penelitian : Bulan februari
sampai dengan Agustus 2013
Tempat
penelitian : Laboratorium Terpadu
Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Peralatan
yang digunakan pada penelitian ini diperlihatkan oleh Tabel 3.1.
Tabel
3.1 Peralatan penelitian
|
No.
|
Nama alat
|
Jumlah / Keterangan
|
|
1
|
Personal Computer
(PC)
|
1 Unit
|
|
2
|
Multitester
|
1 Buah
|
|
3
|
Solder
|
1 Buah
|
|
4
|
Bor
|
1 Buah
|
|
5
|
Gergaji besi
|
1 Buah
|
|
6
|
Setrika
|
1 Buah
|
|
7
|
Tang potong
|
1 Buah
|
|
8
|
Tang jepit
|
1 Buah
|
|
9
|
Obeng
|
1 Buah
|
|
10
|
Wadah
pengaduk/pelarut
|
1 Buah
|
|
11
|
Spidol
permanen
|
1 Buah
|
|
12
|
Penyedot timah
solder (sucker)
|
1 Buah
|
|
13
|
Amplas
|
1 Buah
|
|
14
|
Gunting
|
1 Buah
|
|
15
|
Pisau pemotong
|
1 Buah
|
|
16
|
Pinset
|
1 Buah
|
|
17
|
CodeVision AVR software
|
Versi 2.04.9
|
|
18
|
ISP
Downloader
|
1 buah
|
|
19
|
Proteus software
|
Versi 5.10
|
|
20
|
Wajan
pengorengan
|
1 Buah
|
|
21
|
Kompor gas
|
1 Buah
|
3.2.2. Bahan
Bahan
yang digunakan pada penelitian ini diperlihatkan oleh Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Bahan penelitian
|
No.
|
Nama
bahan
|
Jumlah
/ Keterangan
|
|
1
|
Sensor suhu Termokopel tipe K
|
1 Buah
|
|
2
|
Mikrokontroler ATMega8
|
1 Buah
|
|
3
|
Modul thermokopel kit DS2760
|
1 buah
|
|
4
|
LCD 2x16
karakter
|
5 Buah
|
|
5
|
PCB polos single layer
|
1 Buah
|
|
6
|
Larutan feri chloride (FeCl3)
|
Secukupnya
|
|
7
|
Baterai Rechargeable 9V-200mAh
|
2 Buah
|
|
8
|
Tenol
|
1 Gulung
|
|
9
|
Soket ATMega8
|
1 Buah
|
|
10
|
Kapasitor 22 PF 35 Volt
|
2 Buah
|
|
11
|
Resistor 4K7
|
1 Buah
|
|
12
|
Pin head
|
1 Buah
|
|
13
|
Kabel jumper
|
Secukupnya
|
|
14
|
Dioda IN4001
|
1 Buah
|
|
15
|
Potensiometer 10 k
|
1 Buah
|
|
16
|
Resistor 330 k
|
1 Buah
|
|
17
|
Cristal 12 MHZ
|
1 Buah
|
|
22
|
Kabel Pelangi 20 pin
|
2 Meter
|
|
23
|
Srotel wajan
|
1 buah
|
Prosedur
kerja pada penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahapan yang
dilakukan meliputi pembuatan sistem pengukuran,
pembuatan
biogas
dan implementasi sistem pengukuran, karekterisasi sistem sensor, analisis data,
dan kesimpulan. Prosedur penelitian
dibuat dalam sebuah
skema kerja yang menggambarkan alur
pengerjaan penelitian. Prosedur langkah- langkah kerja penelitian secara umum ditampilkan pada
gambar 3.1.
|
Perangkat
keras
|
|
Perangkat
lunak
|
|
Analisis
data
|
|
I
Pembuatan sistem pengukuran
|
|
II
Implementasi sistem pengukuran
|
|
III
Karakteristik sistem sensor
|
|
kesimpulan
|
|
Proses
penggorengan
|
|
Suhu
minyak goreng
|
|
Pengambilan
data
|
Tabel 3.3 Langkah-langkah digram alir prosedur
penelitian secara umum
Penelitian dilakukan berdasarkan tahapan
yang telah disusun pada tabel 3.1 di atas. Langkah penelitian masing-masing akan dibahas dalam
sub bab berikutnya secara lebih rinci.
3.3.1 Pembuatan Sistem Pengukuran
Pembuatan sistem pengukuran
ini meliputi dua tahapan, yakni
tahap pembuatan perangkat keras dan perangkat lunak. Prosedur masing-masing tahapan
dilakukan dengan beberapa langkah, sebagai berikut:
1.
Pembuatan perangkat keras
Pembuatan perangkat keras alat ukur ini
adalah prosedur pembuatan sistem elektronik dan mekanik pengukuran. Sistem
elektronik pada dasarnya adalah mengintegrasikan sensor dengan pengondisi
sinyal. Sinyal yang telah
dikondisikan kemudian dimasukan ke dalam mikrokontroler untuk diolah. Prosedur
pembuatan sistem pengukuran minyak goreng dapat diperlihatkan pada Gambar 3.2.
|
Persiapan Alat dan Bahan
|
|
Desain skema rangkaian
|
|
Playoutan PCB
|
|
Pelarutan
PCB
|
|
Pengeboran
PCB
|
|
Pemasangan
Komponen
|
|
Penyolderan
|
|
Pengecekan
Rangkaian
|
Gambar
3.2 Diagram alir prosedur pembuatan perangkat keras
2.
Pembuatan perangkat lunak
Pembuatan perangkat lunak adalah tahapan
setelah pembuatan
perangkat
keras. Algoritma pemograman dituliskan dengan bahasa C, tetapi harus
decompile ke dalam kode
hexadecimal sebelum dilakukan
pemograman ke IC mikrokontroler. Semua langkah tersebut dilakukan dalam software
Code Vision AVR versi 2.04. Prosedur pembuatan perangkat
lunak diperlihatkan di Gambar 3.3
3.4.1 Implementasi
sistem pengukuran
Implementasi
sistem pengukuran pada minyak goreng yakni pengukuran nilai suhu minyak goreng
pada proses penggorengan. Prosedur pengukuran dilakukan dengan beberapa
langkah,sebagai berikut:
Prosedur pengukuran nilai suhu minyak
goreng
|
Mulai
|
|
Saklar
Dihidupkan
|
|
Baca
Suhu terpantau
|
|
Hasil
Data Dicatat
|
|
Saklar Dimatikan
|
|
Selesai
|
|
Tampilkan
nilai suhu (0c)
|
|
Ambil
data lagi ?
|
Gambar 3.4 digram alir prosedur kerja
sistem pengukuran
3.4.3
Karakterisasi sensor
1. Linieritas
Linieritas
sensor diperoleh dengan cara membuat grafik hubungan antara tegangan keluaran
sensor dengan konsentrasi gas. Sensor
yang memiliki tanggapan tidak linier bisa dilakukan linierisasi dengan cara
memotong daerah pengukuran liniernya saja. Cara ini menyebabkan jangkuan
pengukuran sensor menjadi berkurang.
Untuk mencarikoefisien korelasi antara kedua variabel, yaitu variabel
bebas (X) dan variabel terikat (Y) dapat ditentukan dengan cara:
Nilai korelasi
menyatakan kekuatan hubungan antara kedua variabel. Jika hasilnya mendekati 1
maka hubungannya sangat kuat.
2. Sensitivitas
Untuk fungsi transfer yang linier, sensitivitas sensor
dapat diperoleh dari slope grafik. Fungsi transfer ini menggambarkan hubungan
keluaran yang dihasilkan (Yi)
terhadap stimulus yang diberikan (Xi).
Persamaan regresi linier
sederhana, dapat ditentukan dengan persamaan 3.9.
Untuk menentukan nilai slope (b) dan intersep (a)
dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
3. Jangkauan Pengukuran
Jangkuan pengukuran pada penelitian ini
adalah seberapa besar konsentrasi suhu minyak goreng saat proses penggorengan yang masih dapat dideteksi dan diukur oleh
sensor.
4. Repeatabilitas
Repeatabilitas diperoleh dengan membaca grafik
yang terbentuk dari pengulangan proses analisis data pada waktu yang berbeda.
Sehingga besarnya error
repeatability dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut:
Keterangan,
δ : Repeatability
Error
Δ
: Nilai Maximum – Nilai Mininimum
FS
: Full Scale (skala terjauh)

No comments:
Post a Comment